Have a Little Faith
-->

Voice of the Past: Oral HistoryVoice of the Past: Oral History

by
February 5, 2012 03:39

Oral history is a history built around people. It thrusts life into history itself and it widens its scope. It allows heroes not just from the leaders, but from the unknown majority of the people. It encourages teachers and students to become fellow workers. It brings history into, and out of, the community. It helps the less privileged, and especially the old, towards dignity and self-confidence. It makes for contacts and thence understanding between social classes, and between generations. And to individual historians and others, with shared meanings, it can give a sense of belonging to a place or in time. In short, it makes for fuller human beings. Equally, oral history offers a challenge to the accepted myths of history, to the authoritarian judgement inherent in its tradition. It provides a means for a radical transformation of the social meaning of history.

Buku ini saya baca atas rekomendasi seorang teman, sebagai panduan untuk projek sejarah lisan.  Menariknya, sejarah lisan yang dimaksud dalam buku ini, tidaklah terbatas pada kajian cerita lisan, folklor, hikayat, atau mitos yang biasanya ditujukan untuk menjaga kekayaan dan nilai-nilai tradisi yang hampir punah saja.

Melalui buku ini, Thompson mengingatkan kita untuk mempertanyakan dokumen-dokumen rujukan utama sejarah.  Suara siapa yang kita pilih untuk didengar, jika kita membatasinya hanya pada sumber-sumber yang “sahih” itu?  Bagaimana kita menentukan proses seleksi dan evaluasi sumber data?  Bukankah sudah sering kita lihat, bagaimana “sejarah yang sah” tiap kali dikonstruksi ulang ketika terjadi pergantian kekuasaan?  Struktur kekuasaan bekerja dengan membentuk masa lalu dalam citranya—semakin personal, lokal, remeh dan tidak penting suatu dokumen, semakin kecil kemungkinannya diakui.

Pengetahuan mengenai proses sejarah lisan di sini bukan bermaksud secara langsung memberi makna ataupun posisi politis, tapi lebih untuk mengingatkan kita bahwa semua aktivitas dan penelitian yang kita lakukan, mau tidak mau, pasti memiliki konteks sosial, implikasi politis, dan keberpihakan. Untuk kepentingan siapa masa lalu kita dibentuk?  Siapa yang memiliki suara dalam sejarah?

Thompson memulai bukunya dengan memberi selayang pandang kaitan sejarah dengan masyarakatnya, dan bagaimana sejarah lisan mendorong proses pembentukan sejarah yang tidak terbatas pada peristiwa dan tokoh besar.  Pada dasarnya, sejarah lisan bukanlah suatu hal yang baru; sebaliknya, sejarah lisan adalah sejarah pertama sebelum tulisan ditemukan.  Jika kesahihan sumber lisan (wawancara dengan orang biasa, misalnya) dipertanyakan, sebetulnya, kita sendiri pun perlu mempertanyakan kesahihan sumber-sumber tertulis. (Kita ingat sendiri buku-buku sejarah Nugroho Notosusanto.)

Selain mengubah isi sejarah itu sendiri menjadi (katakanlah) lebih demokratis, metode sejarah lisan sendiri cenderung mendorong proses yang lebih kolaboratif dan berkelanjutan antara peneliti dengan sekitarnya.  Karena projek sejarah lisan—dengan penekanannya pada wawancara dan interaksi langsung—memerlukan kerjasama dan pengertian antara peneliti dan informan dalam posisi yang lebih setara dan informal.  Batasan antara peneliti (akademi) dengan informan (“orang biasa”) pun cenderung menjadi lebih cair jika dibandingkan dengan sekedar berkutat pada arsip-arsik tertulis kuno.

Buku ini dilengkapi dengan panduan untuk memulai projek sejarah lisan.  Dari uraiannya, terlihat semangat, antusiasme dan rasa tanggung jawab Thompson untk mengajak pembaca terlibat dalam pembentukan wacana sejarah yang relevan dengan masyarakatnya. Selain memberi ide-ide projek yang seru dan kolaboratif (bisa melibatkan anak-anak, lansia, siapapun), Thompson membahas proses wawancara, penyimpanan dan penyaringan data dengan mendetil, lengkap dengan panduan pertanyaan wawancara dan daftar bacaan lanjutan yang sangat membantu. Praktis sekaligus kritis.

Ditulis dengan bahasa yang mudah dimengerti, buku ini tidak hanya memberi kita panduan untuk memulai projek sejarah lisan, tapi juga membahas, dan mempertanyakan, metode dan makna sejarah dalam kehidupan kita, serta pentingnya peran sumber-sumber lisan yang sering kali kurang diperhatikan.  Buku yang mendorong kita tidak hanya untuk mempelajari sejarah, tapi juga dengan aktif mengujarkan, menuliskan, membentuknya.  “Oral history gives history back to the people in their own words. And in giving a past, it also helps them towards a future of their own making.

The Voice of the Past: Oral History (edisi ketiga)
Penulis: Peter Thompson
New York: Oxford University Press, 2000 [1978]

Catatan:

1) Saya baru sadar Paul Thompson adalah salah satu fellow di Young Foundation.  Saya pribadi merekomendasikan membaca publikasi-publikasi mereka, hampir semuanya dapat diunduh gratis dalam bentuk PDF.  Sangat berguna untuk pengembangan ide dan wacana projek komunitas.

2) Terima kasih pada Erlin G. (Chimp Chomp Design), untuk fotonya, dan Antariksa (KUNCI Cultural Studies) untuk rekomendasi bukunya.

Oral history is a history built around people. It thrusts life into history itself and it widens its scope. It allows heroes not just from the leaders, but from the unknown majority of the people. It encourages teachers and students to become fellow workers. It brings history into, and out of, the community. It helps the less privileged, and especially the old, towards dignity and self-confidence. It makes for contacts and thence understanding between social classes, and between generations. And to individual historians and others, with shared meanings, it can give a sense of belonging to a place or in time. In short, it makes for fuller human beings. Equally, oral history offers a challenge to the accepted myths of history, to the authoritarian judgement inherent in its tradition. It provides a means for a radical transformation of the social meaning of history.

Buku ini saya baca atas rekomendasi seorang teman, sebagai panduan untuk projek sejarah lisan.  Menariknya, sejarah lisan yang dimaksud dalam buku ini, tidaklah terbatas pada kajian cerita lisan, folklor, hikayat, atau mitos yang biasanya ditujukan untuk menjaga kekayaan dan nilai-nilai tradisi yang hampir punah saja.

Melalui buku ini, Thompson mengingatkan kita untuk mempertanyakan dokumen-dokumen rujukan utama sejarah.  Suara siapa yang kita pilih untuk didengar, jika kita membatasinya hanya pada sumber-sumber yang “sahih” itu?  Bagaimana kita menentukan proses seleksi dan evaluasi sumber data?  Bukankah sudah sering kita lihat, bagaimana “sejarah yang sah” tiap kali dikonstruksi ulang ketika terjadi pergantian kekuasaan?  Struktur kekuasaan bekerja dengan membentuk masa lalu dalam citranya—semakin personal, lokal, remeh dan tidak penting suatu dokumen, semakin kecil kemungkinannya diakui.

Pengetahuan mengenai proses sejarah lisan di sini bukan bermaksud secara langsung memberi makna ataupun posisi politis, tapi lebih untuk mengingatkan kita bahwa semua aktivitas dan penelitian yang kita lakukan, mau tidak mau, pasti memiliki konteks sosial, implikasi politis, dan keberpihakan. Untuk kepentingan siapa masa lalu kita dibentuk?  Siapa yang memiliki suara dalam sejarah?

Thompson memulai bukunya dengan memberi selayang pandang kaitan sejarah dengan masyarakatnya, dan bagaimana sejarah lisan mendorong proses pembentukan sejarah yang tidak terbatas pada peristiwa dan tokoh besar.  Pada dasarnya, sejarah lisan bukanlah suatu hal yang baru; sebaliknya, sejarah lisan adalah sejarah pertama sebelum tulisan ditemukan.  Jika kesahihan sumber lisan (wawancara dengan orang biasa, misalnya) dipertanyakan, sebetulnya, kita sendiri pun perlu mempertanyakan kesahihan sumber-sumber tertulis. (Kita ingat sendiri buku-buku sejarah Nugroho Notosusanto.)

Selain mengubah isi sejarah itu sendiri menjadi (katakanlah) lebih demokratis, metode sejarah lisan sendiri cenderung mendorong proses yang lebih kolaboratif dan berkelanjutan antara peneliti dengan sekitarnya.  Karena projek sejarah lisan—dengan penekanannya pada wawancara dan interaksi langsung—memerlukan kerjasama dan pengertian antara peneliti dan informan dalam posisi yang lebih setara dan informal.  Batasan antara peneliti (akademi) dengan informan (“orang biasa”) pun cenderung menjadi lebih cair jika dibandingkan dengan sekedar berkutat pada arsip-arsik tertulis kuno.

Buku ini dilengkapi dengan panduan untuk memulai projek sejarah lisan.  Dari uraiannya, terlihat semangat, antusiasme dan rasa tanggung jawab Thompson untk mengajak pembaca terlibat dalam pembentukan wacana sejarah yang relevan dengan masyarakatnya. Selain memberi ide-ide projek yang seru dan kolaboratif (bisa melibatkan anak-anak, lansia, siapapun), Thompson membahas proses wawancara, penyimpanan dan penyaringan data dengan mendetil, lengkap dengan panduan pertanyaan wawancara dan daftar bacaan lanjutan yang sangat membantu. Praktis sekaligus kritis.

Ditulis dengan bahasa yang mudah dimengerti, buku ini tidak hanya memberi kita panduan untuk memulai projek sejarah lisan, tapi juga membahas, dan mempertanyakan, metode dan makna sejarah dalam kehidupan kita, serta pentingnya peran sumber-sumber lisan yang sering kali kurang diperhatikan.  Buku yang mendorong kita tidak hanya untuk mempelajari sejarah, tapi juga dengan aktif mengujarkan, menuliskan, membentuknya.  “Oral history gives history back to the people in their own words. And in giving a past, it also helps them towards a future of their own making.

The Voice of the Past: Oral History (edisi ketiga)
Penulis: Peter Thompson
New York: Oxford University Press, 2000 [1978]

Catatan:

1) Saya baru sadar Paul Thompson adalah salah satu fellow di Young Foundation.  Saya pribadi merekomendasikan membaca publikasi-publikasi mereka, hampir semuanya dapat diunduh gratis dalam bentuk PDF.  Sangat berguna untuk pengembangan ide dan wacana projek komunitas.

2) Terima kasih pada Erlin G. (Chimp Chomp Design), untuk fotonya, dan Antariksa (KUNCI Cultural Studies) untuk rekomendasi bukunya.

Categories: Book reviews
Tags:

: Founding director, c2o library & collabtive. Currently also working in Singapore as a Research Associate at the Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS). Opinions are hers, and do not represent/reflect her employer(s), institution(s), or anyone else with whom she may be remotely affiliated.
Email this author | Visit author's website | All posts by

Leave a Reply


Subscribe

Daftarkan email untuk menerima berita
Subscribe to receive email updates

What’s On

Archives


Book reviews »
rumahkertascarlosdominquez-575x350
Rumah Kertas
Carlos María Domínguez
by Ivana Kurniawati
Meski tipis dan mampu dilahap sekali duduk, kisah ini (dan bagaimana penulis menceritakannya) mampu ...
Film reviews »
invitation05
Invitation
Affan Hakim, 2011
by Iman Kurniadi
Sebuah movie screening patut saya ikuti karena biasanya saya bertemu dengan para movie mak...
Music reviews »
Deugalih. Foto: Denan Bagus (akudenan.wordpress.com)
Guyonan Intim dan Syahdunya Tur ‘Monster of Folk’ di Surabaya

by Debby Utomo
Project yang dibawakan oleh Rayhan Sudrajat, Deugalih, dan Ledakan Urbanisasi ini menyadarkan saya b...
Download »
ronascent2_outtatime
Outtatime
Ronascent
by c2o library & collabtive
Ronascent, salah satu media musik online yang berbasis di Surabaya, kembali menerbitkan kumpulan ...
Event »
not-your-world-music-575
Not Your World Music: Noise in Southeast Asia

by c2o library & collabtive
Diskusi buku Not Your World Music: Noise in South East Asia karya Cedrik Fermont & Dimitri della...

Twitter

Latest stories curated by Ayorek!, connecting the people & the city of Surabaya