Perlawanan dalam Kepatuhan

by
February 14, 2016 23:49

PerlawananDalamKepatuhan

Buku ini berisi seleksi kumpulan tulisan Ariel Heryanto yang pernah diterbitkan di berbagai majalah dan koran—antara lain, Kompas, Forum Keadilan, Dialog, Tiara, TEMPO, dsb—selama 14 Mei 1976 hingga 12 Juni 1998. Atau dengan kata lain, pada masa-masa kejayaan hingga jatuhnya Orde Baru. Tentu saja, banyak dari tulisan-tulisan yang diterbitkan media massa ini sudah dipotong dan disunting oleh redaksi, entah dengan atau tanpa persetujuan Ariel. Namun bagaimanapun juga, kumpulan tulisan ini berharga karena tidak hanya menampilkan pandangan Ariel, tapi juga berbagai serpihan pikiran yang mencerminkan (institusi pers pada) zamannya.

Tulisan dalam buku ini dibagi menjadi empat bagian: (1) Politik kebudayaan dan kapitalisme, (2) Politik bahasa dan wacana media, (3) Politik kekerasan dan wacana-tanding, dan (4) Politik identitas dan pemujaan gaya hidup. Subjek yang dibahas bermacam-macam, tapi erat berkaitan dengan bagaimana bahasa, gaya hidup, kelas menengah, seksualitas, pendidikan, kebudayaan, nasionalisme, kasat diresapi dan tak dapat dipisahkan dari politik dan teknologi kekerasan. Termasuk ketika kita (diwajibkan) berbahasa yang “baik dan benar”, dengan menggunakan bahasa yang bukan bahasa sehari-hari mayoritas penduduk negeri ini.

Bahasa yang menghidupi dan dihidupi rakyat kebanyakan dalam kehidupan sehari-hari dianggap sebagai ancaman terhadap bahasa nasional yang halal atau dianggap sebagai bahasa nasional yang “keliru dan jelek”. Bahasa demikian dianggap perlu ditindas. Sebagai gantinya dipasarkan bahasa yang disebut “baik dan benar”. Orang kebanyakan hanya diminta menadah produk dari atas itu sebagai konsumen, lewat kurikulum wajib di sekolah yang hanya mampu menampung sebagian kecil dari orang kebanyakan, di samping rubrik konsultasi di media massa yang diasuh oleh kaum profesional.

Dari pembahasan-pembahasan ini kita melihat bagaimana ini semua diarahkan pada satu tujuan: kepatuhan. Di sisi lain, kita juga melihat bagaimana wacana-tanding dan perlawanan tetap hidup. Ariel bisa mengamati hal-hal ini dengan tajam dan kritis, tanpa terbius dalam romantika aktivisme dan konfrontasi. “Perlawanan yang kelihatan paling konfrontatif tidak selalu sama dengan perlawanan paling radikal, fundamental, atau subversif.”

“Antara Dulu dan Sekarang” perlu dibaca oleh mereka yang merasa anak muda dulu—di bawah represi Orde Baru, atau “pas dulu gue masih muda”—lebih idealis, memiliki tujuan bersama, dan musuh yang lebih jelas.

Alkisah, di zaman kolonial banyak anak muda Indonesia yang idealis. Umur mereka baru mendekati atau melewati 20 tahun, tetapi karya mereka luar biasa. Konon pula, mereka berjiwa pejuang, bermoral tinggi, berani membela kebenaran, hak-hak asasi manusia dan solidaritas nasional…

Disadari ataupun tidak, pengisahan masa lampau semacam itu mengungkapkan kerinduan. Semacam ratapan bahwa pada masa ini tidak kita jumpai lagi kaum muda yang serbahebat seperti di zaman kolonial. Dan karena itu, masa lampau senantiasa memukau. Senantiasa lebih indah dari aslinya.

Masa lampau dibuat (biasanya tanpa sadar) lebih indah sebanding dengan bobot keckecewaan dan derita masyarakat masa kini. Ingat, orang di zaman kolonial pun memandang masa-masa sebelumnya lebih indah daripada masa hidup mereka. Sejarah selalu selalu berada di masa kini, walau mengais-ais belukar masa lampau.

Ideologi dominan dalam masyarakat menyodorkan jawaban lain. Langka atau punahnya gerakan kaum muda pada masa Orde Baru dianggap bersumber dari perginya kekuasaan kolonial Belanda dari Tanah Air. Pandangan ini kuat sangat meluas. Bahkan beberapa aktivis mahasiswa juga ikut terserang ideologi dominan ini. Menurut mereka:  “Zaman sekarang sangat lain daripada zaman kolonial Belanda. Dulu musuhnya jelas, sekarang tidak.”

 Sungguh keliru jika zaman kolonial dibilang sangat berbeda dengan zaman Orde Baru dengan alasan musuh di zaman kolonial kelihatan jelas. Kekuasaan kolonial diselimuti oleh orang-orang dari bangsa terjajah sendiri. Ketika Sumpah Pemuda diikrarkan, 90% aparat negara kolonial adalah orang-orang “Indonesia”. Mereka menjadi tentara kolonial, juru ketik, jaksa dan mata-mata kolonial. Mereka menangkap, menginterogasi, mengadili serta memenjarakan para aktivis muda.

Enam belas tahun setelah Reformasi, kita mendapati diri telah melalui separuh zaman Orde Baru. Beberapa pembahasan mungkin terulang-ulang, mengingat ini adalah bunga rampai dari berbagai media, tapi buku ini sangat cocok dibaca sekarang untuk mengingatkan kita tentang Orde Baru, maupun “Orde Lama”, beserta Suharto maupun Sukarno, yang akhir-akhir ini mengalami semacam romantisasi dan fosilisasi.

Entah bagaimana caranya, tapi kita perlu membangun strategi untuk memperkaya pendidikan sejarah—dan juga bahasa dan sastra—yang masih belum banyak berubah. Dan mempertimbangkan bagaimana supaya bisa berdampak dan berkelanjutan, tidak melulu banyak mau dan nafsu tapi minim strategi. Bagaimana membawa kembali sejarah dan sastra yang apik dalam kurikulum? Saya sendiri tidak tahu jawabannya, tapi perlu kita pikirkan dan kerjakan bersama, daripada melulu fokus pada politik elektoral dan apa yang sedang trending di media.

Membaca tulisan terbaru Ariel mengenai Pemilihan Presiden 2014 lalu, bangsa kita, mungkin tak lagi murung. Tapi semoga, masih ada sedikit ruang untuk merenung.

Judul: Perlawanan dalam Kepatuhan: Esai-esai Budaya
Penulis: Ariel Heryanto
Editor: Idi Subandy Ibrahim
Penerbit: Mizan, 2000
Call No: 305.09045 HER Per

Categories: Book reviews

: Founding director, c2o library & collabtive. Currently also working in Singapore as a Research Associate at the Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS). Opinions are hers, and do not represent/reflect her employer(s), institution(s), or anyone else with whom she may be remotely affiliated.
Email this author | Visit author's website | All posts by

Leave a Reply


Subscribe

Daftarkan email untuk menerima berita
Subscribe to receive email updates

Archives


Book reviews »
rumahkertascarlosdominquez-575x350
Rumah Kertas
Carlos María Domínguez
by Ivana Kurniawati
Meski tipis dan mampu dilahap sekali duduk, kisah ini (dan bagaimana penulis menceritakannya) mampu ...
Film reviews »
invitation05
Invitation
Affan Hakim, 2011
by Iman Kurniadi
Sebuah movie screening patut saya ikuti karena biasanya saya bertemu dengan para movie mak...
Music reviews »
Deugalih. Foto: Denan Bagus (akudenan.wordpress.com)
Guyonan Intim dan Syahdunya Tur ‘Monster of Folk’ di Surabaya

by Debby Utomo
Project yang dibawakan oleh Rayhan Sudrajat, Deugalih, dan Ledakan Urbanisasi ini menyadarkan saya b...
Download »
ronascent2_outtatime
Outtatime
Ronascent
by c2o library & collabtive
Ronascent, salah satu media musik online yang berbasis di Surabaya, kembali menerbitkan kumpulan ...
Event »
pasardjenggot575x350
Pasar Djenggot vol. 1

by c2o library & collabtive
Pasar Djenggot ☞ Minggu, 11 Desember 2016, pk. 15.00 – 18.00 di c2o library & collabti...

Twitter

Latest stories curated by Ayorek!, connecting the people & the city of Surabaya