Profil Dunia Film Indonesia

Buku ini adalah salah satu buku sejarah film Indonesia yang paling populer dan mudah diakses, setidaknya di tahun 1980an.  Berasal dari skripsi sarjananya, dalam buku ini Salim Said berusaha untuk menjawab sejumlah pertanyaan dari berbagai pihak dan kalangan yang mempersoalkan mutu dan kecenderungan utama (yang sering dikeluhkan dalam) film Indonesia.  Misalnya, kenapa film Indonesia cenderung menonjolkan seks, kemewahan, dan kekerasan?  Mengapa banyak sekali jiplakan film impor?  Mengapa terasa asing sekali dengan manusia dan persoalan Indonesia?


profilduniafilmIndonesiaProfil Dunia Film Indonesia
Pengarang: Salim Said
Penerbit:
No. Panggil: 791.4309598 SAI Pro


Dari buku ini kita bisa melihat bahwa keluhan-keluhan ini sudah berlangsung sangat lama, dan ia tidak lahir begitu saja.  Kecaman-kecaman ini menyangkut nilai-nilai dan kebiasaan yang telah melembaga lewat sejarah yang relatif panjang.  Salim Said di sini berusaha memaparkan lemahnya posisi tawar pekerja film yang terjepit di bawah produser—kebanyakan berlatar belakang pedagang, atau mengimpor langsung dari film-film laris luar karena latar belakang hidup, ataupun tergiur atas prospeknya.  Struktur perfilman di Indonesia, menurut Said, bersifat sangat “coba-coba” dengan kontrol ketat terletak pada produser yang juga pemilik modal.

Untuk memberi gambaran yang lebih jelas, Said membagi pola film Indonesia menjadi dua, berdasarkan dua subkultur dunia perfilman sendiri, yaitu genre dan movement. Kedua-duanya, meskipun berbeda, juga memiliki persamaan dinamika sosial dalam mengembangkan pola kebudayaan tertentu, serta penonton yang dididik dan dibiasakan dalam kebiasaan khusus mereka masing-masing.

Dijabarkan pula bagaimana dari semenjak awal berdirinya industri film di Indonesia, sebagian besar pekerja film memasuki dunia film pertama-tama karena mereka butuh pekerjaan.  Berbeda dengan dunia kesusastraan, seni musik, atau seni rupa, misalnya, dan kebanyakan mereka memulainya dari bawah.  Singkatnya, mereka masuk ke dalam dunia film karena butuh kerja.

Sebagai contoh, jika kita melihat kebanyakan sutradara angkatan pertama perfilman Indonesia seperti Andjar Asmara, Soeska, dan Inoe Pebatasari, mereka adalah orang-orang yang berlatar belakang panggung sandiwara, dan kurang mengerti permasalahan teknis kamera.  Ini adalah salah satu perbedaan yang cukup signifikan dengan sutradara-sutradara Indonesia sekarang yang umumnya melewati jenjang pendidikan film dan melek berbagai pengetahuan teknis kamera (meskipun ini bukan berarti selalu membuat kualitas filmnya lebih baik!).

Politik, juga kuat mempengaruhi situasi dan kondisi perfilman Indonesia.  Konsep “Politik adalah Panglima” yang diperkenalkan oleh Lekra, pernah kuat mewarnai sejarah Indonesia.  Salim Said menguraikan konflik-konflik yang terjadi terutama sekitar tahun 1950 hingga 1965, serta data-data perbandingan jumlah filmnya.  Tapi, menurut Said, jejak-jejak “kegarangan”, “progresif revolusioner” dan semangat militansi politik sebagaimana didengung-dengungkan boleh dibilang tidak meninggalkan jejak dalam perfilman Indonesia.  Selain itu, masa Jepang yang singkat, mendapat sambutan antusias di kalangan orang film Indonesia masa itu.  Di zaman Jepang, masyarakat perfilman mendapati film bisa memainkan peranan sebagai “alat pendidik rakyat”, hal yang tidak terbayangkan pada zaman sebelum perang.

Situasi perfilman Indonesia (mungkin) sudah banyak berubah semenjak terbitnya buku ini di tahun 1980an.  Tapi di sisi lain, kita masih sering mendengan keluhan-keluhan yang sama, terutama berkaitan dengan posisi tawar yang lemah dari para pekerja film.  Setidaknya, buku tipis ini menawarkan sedikit pemahaman awal.  Bagi yang kurang akrab dengan dunia film Indonesia lama, kita bisa melihat—terlampir dalam buku ini—biografi-biografi singkat tokoh-tokoh film Indonesia beserta foto-fotonya, dan menelusuri rekomendasi bacaan untuk sedikitnya lebih mengerti dunia perfilman kita.

Email | Website | More by »

Founding director, c2o library & collabtive. Currently also working in Singapore as a Research Associate at the Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS). Opinions are hers, and do not represent/reflect her employer(s), institution(s), or anyone else with whom she may be remotely affiliated.

Leave a Reply