Reportase: Rumah Abu Han

by
August 18, 2011 03:16  |  1 Comment

Minggu sore, 14 Agustus 2011, pengunjung mulai berdatangan melalui lorong C2O. Berbagai kudapan–kurma, timun mas, pepaya, gorengan, sosis Solo, cao–digelar di atas meja panjang untuk berbuka puasa.  Tinta, Ajeng dan Mba Yuli sibuk melayani menghidangkan makanan.  Sambil menikmati takjil, pengunjung berbaur dan berbincang-bincang santai—tampak Oom Oey Hiem Hwie dari Perpustakaan Medayu Agung dan Prof. Esther Kuntjara dari ketua Centre for Chinese Indonesian Studies (CCIS), UK Petra, yang telah mendukung dan meluangkan waktunya untuk acara ini.

 

 

Di belakang, Kevin Reinaldo, sutradara dan penulis film dokumenter pendek ini, dibantu oleh Ivan Gunawan, animator, menyiapkan materi presentasi dan filmnya di laptopnya.  Setyo Nugroho dari komunitas sejarah Surabaya Tempo Dulu selaku moderator, mengundang Kevin untuk memberi presentasi singkat mengenai filmnya.  Baru saja lulus dari Desain Komunikasi Visual UK Petra, Kevin menceritakan sedikit mengenai proses pembuatan film dan infografis Rumah Abu Han, yang tercatat sebagai rumah abu tertua di Surabaya.

Keluarga Han pertama kali tiba di Indonesia di kota pesisir Lasem, sekitar tahun 1673, sementara rumah abu itu sendiri baru didirikan sekitar abad 18-19 oleh Han Bwee Koo, keturunan ke-6.  Meskipun dikatakan sebagai rumah abu, tidak ada abu yang disimpan di dalamnya.  Yang ada adalah kayu-kayu simbolis dengan tulisan nama keluarga yang telah meninggal yang disebut sinci.  Di sebelah Rumah Abu Han, juga ada Rumah Abu The, yang dulunya adalah menantu keluarga Han.  Selain itu, di jalan Karet, juga ada rumah abu keluarga Tjoa.

Dokumenter yang dibuat untuk Tugas Akhir kuliahnya ini menyorot arsitektur Rumah Abu Han.  Kevin juga menyebarkan film ini dengan gratis di internet, dapat diunduh selengkapnya di: http://vimeo.com/24602582

Rumah Abu Han Documentary Film from kevinarffandy on Vimeo.

Dengan visual fotografi yang menarik, dokumenter ini mendeskripsikan isi dan penampilan rumah, dan menampilkan wawancara dengan pemiliknya, Pak Robert Rosihan, juga Pak Freddy Istanto (pendiri Syarikat Pusaka Surabaya), Ibu Hannie Kwartanti (dosen dan ahli kebudayaan Tionghoa), dan Pak Karno (salah satu penjaga Rumah Abu).  Diceritakan juga kondisi Rumah Abu Han saat ini, yang belakangnya digunakan untuk tempat tinggal keluarga Han yang baru datang dari Tiongkok dan belum memiliki tempat tinggal di Indonesia.  Ada sumur tua yang masih berfungsi hingga saat ini.  Pak Robert juga masih merawat rumah itu untuk menghormati tradisi leluhur, dan juga memfungsikan rumah itu untuk kepentingan pendidikan seperti bedah buku dan pameran batik encim.

Setyo, moderator dari Surabaya Tempo Dulu

Di akhir pemutaran, Debby Ariyani dari Jejak Petjinan sedikit berbagi pengalamannya menelusuri sejarah orang-orang Tionghoa.  Debby senang sekali melihat ketertarikan anak-anak muda pada peninggalan dan tradisi lama, dan kagum pada kemurahan hati Kevin menyebarkan videonya dengan gratis.  Debby juga mengumumkan undangan acara Jejak Petjinan berikutnya yang akan kembali mengunjungi Rumah Abu Han.

Debbie Ariyani dari Jejak Petjinan

Setyo kemudian mengundang Pak Ir. Lukito Kartono, juga dari CCIS, untuk berbagi pendapatnya mengenai rumah ini.  Seorang pakar arsitektur tradisional Tionghoa dan Indonesia, juga antropolog yang sempat mengenyam pendidikan langsung dari Prof. Koentjaraningrat, Pak Luk kebetulan sedang dalam proses penulisan buku mengenai sejarah komunitas orang Tionghoa di Surabaya dan arsitekturnya.  Beliau memberi presentasi tinjauan historis dan arsitektural mengenai Rumah Abu Han yang sangat komprehensif dan teramat memperkaya informasi film dokumenter ini.

Pak Lukito Kartono dari CCIS

Menurut Pak Lukito, film dokumenter ini bagus secara komunikasi visual—beliau menyebutkan Anak Naga Beranak Naga (dir. Ariani Darmawan) sebagai pembanding—tapi ada beberapa informasi yang perlu diluruskan.  Pertama, Pecinan pertama di Surabaya bukan di Kembang Jepun, tapi di Jalan Karet.  Kedua, pernikahan keluarga Han dan keluarga The, terjadi di generasi bawah, dan kemungkinan besar karena kebijakan politis.  Ketiga, yang nantinya akan diulasnya lebih lanjut, adalah bahwa arsitektur Rumah Abu Han hanya memadukan 2 gaya, yakni gaya Tionghoa dan gaya kolonial Belanda.

Pak Luk memberi penjelasan sejarah kedatangan orang-orang Tionghoa yang datang ke Indonesia, diperkirakan sudah datang sejak abad pertama Masehi.  Kebanyakan dari mereka datang dari daerah selatan yang agraris dan lebih kaya seninya, semuanya juga dengan suku dan latar belakang yang sangat heterogen, dan nantinya mempengaruhi profesi mereka kemudian di Surabaya.  Dipaparkan juga tiga gelombang imigran yang datang dalam jumlah besar.  Menariknya, sebenarnya setelah tahun 2000—periode barang murah–juga terjadi gelombang imigran besar-besaran dari Tiongkok, yang sejauh ini belum terdokumentasikan meskipun jelas terlihat di mall-mall Surabaya seperti Pakuwon Trade Center (PTC).  Ada banyak penjual guci atau furniture murah, yang juga tinggal, tidur dan masak, di dalam tokonya.

Kita kemudian diberi informasi sejarah keluarga Han, dari awal kedatangannya ke Lasem, perpindahannya ke Surabaya, disertai dengan silsilahnya.  Ada kepercayaan, bahwa keluarga Han tidak berani tinggal di Lasem, karena dikutuk oleh Han Siong Kong (Han Songgong).  Keluarga Han sebagai keluarga yang berada boleh dibilang menjadi “penguasa” di Surabaya.  Mereka menguasai monopoli candu, dan mampu membeli berbagai tanah yang dijual oleh Daendels dan Raffles untuk membiayai perangnya.  Menampilkan peta wilayah Surabaya saat itu, tampak bahwa hampir separuh wilayah Surabaya dimiliki oleh keluarga Han, keluarga The, dan keluarga Tjoa.

Dari segi arsitekturnya, Rumah Abu Han memiliki konsep arsitektur Tionghoa yang sangat kental.  Ini terutama terlihat dari sumur udara—lubang terbuka—yang menghubungkan penghuninya dengan tuhannya, Tien.  Di Tiongkok, bentuknya umumnya berupa huruf O, tapi di Indonesia biasanya bentuknya menyesuaikan dengan lahan yang sempit dan berubah menjadi separuh terbuka (huruf C).  Selain itu, selalu ada gerbang sebagai penanda bahwa pengunjung memasuki daerah teritorial yang berbeda, dan mereka harus menghormatinya.  Dindingnya juga selalu tertutup, dan bentuknya simetris, mementingkan keseimbangan.  Terakhir, ada hirarki yang sangat kental: semakin ke belakang, semakin sakral.  Altar ada di belakang, dan kamar tidur tetua pun berada makin dekat dengan altar.   Perhatikan juga pintu kipas separuhnya.  Pintu ini sangat fungsional untuk menahan anak-anak tapi juga memperbolehkan orang tuanya berkomunikasi ke luar.

Pengaruh kolonial Belanda juga terasa kuat, terutama dari Indische empire.  Ini bisa dilihat dari keberadaan teras yang terbuka di depan dan belakang, menghadap ke sungai yang saat itu masih bersih.  Ada juga kolom-kolom besar bergaya Yunani Romawi.  Tapi untuk menyebut pengaruh arsitektur Jawa, menurut Pak Luk, adalah terlalu spekulatif, mengingat minimnya pengalaman historis keluarga Han dengan budaya Jawa, dan sedikitnya ciri khas arsitektur Jawa Timur.  Saat membahas salah satu pilar di Rumah Abu Han yang jelas bertuliskan Glasgow, Pak Luk berbagi informasi mengenai bagaimana pilar dengan tulisan Glasgow juga dapat ditemukan di kraton Jogjakarta.

Pak Robert Rosihan, pemilik rumah abu Han.

Sesi kemudian dilanjutkan dengan tanya jawab dengan Pak Robert Rosihan, pemilik Rumah Abu, yang sekali lagi telah sangat berbaik hati menyempatkan untuk hadir di acara ini, di tengah-tengah jadualnya yang padat baru saja datang dari Jakarta.  Ada banyak pertanyaan mengenai kondisi dan kesulitan pelestarian Rumah Abu Han.  Kami semua sangat salut dengan usaha dan biaya yang Pak Robert lakukan untuk terus merawat rumah tersebut.

Prof. Esther memberi ide pengelolaan dari pengalamannya di Amerika.  Beliau bercerita bagaimana keluarga Tjoa pun menghadapi kesulitan yang sama dalam pengelolaan rumah sembahyang mereka.  Usul beliau adalah, bagaimana kalau dibentuk yayasan untuk memelihara rumah-rumah sembahyang tersebut?  Pak Robert kemudian bercerita bagaimana keluarga Tjoa dan The sebenarnya sudah mengkontaknya untuk membahas permasalahan ini bersama, tapi dalam perjalanannya masih ada kendala-kendala internal di kalangan keluarga masing-masing.

Selain itu, juga harus ada dukungan dari pemerintah untuk membangun daerah sekitarnya.  Dari segi keamanan maupun pengembangan infrastruktur (sebagai daerah wisata, misalnya), memang daerah itu dinilai kurang nilai jualnya.  Siang ramai penuh dengan truk, malam sepi dan dirasa kurang aman.  Belum lagi, wacana “cagar budaya” dirasa sama sekali tidak–atau belum?–membantu pelestarian cagar budaya itu sendiri.  Pak Luk menjelaskan, mendapat label “cagar budaya” berarti pemilik tidak dapat memperjual belikan tempatnya, merenovasinya juga harus memenuhi berbagai persyaratan yang ruwet, sementara PBBnya sendiri tidak mendapat keringanan.

Oom Hwie kemudian menunjukkan kami buku koleksinya, mengenai kelenteng di Indonesia.  Beliau menghimbau pembuatan buku mengenai Rumah Abu Han, supaya jika suatu saat rumah tersebut tidak ada, setidaknya ada dokumentasi mengenainya.  Selain itu, Ardian Purwoseputro berbagi cerita mengenai projek pembuatan dokumenter mengenai komunitas Tionghoa di Surabaya, yang targetnya akan ditayangkan di salah satu TV nasional untuk tahun depan.

Berbagai usaha pelestarian budaya terus dilakukan, dan sebagaimana dapat kita lihat dari acara ini, tentunya tidak mudah dan penuh kesulitan.  Kawan baik saya pernah berkata, bahwa jika kita peduli, kita tidak sendiri.  Setidaknya, saya berharap acara ini dapat memberi sedikit harapan, perkenalan, ataupun ide kerja sama yang dapat ditindaklanjuti di masa depan.  Semoga.

Terima kasih kepada Kevin, Pak Lukito, Pak Robert, Oom Hwie, Bu Esther, Pak Aditya Nugraha, Debby Ariyani Setyo, Setyo, Ajeng, Ardian, dan semua orang yang telah mendukung terjadinya acara ini.  Kami mohon maaf atas segala kekurangan kami.  Semoga kami bisa menjadi lebih baik di acara-acara kami berikutnya.

Diselenggarakan atas kerjasama:

  • Perpustakaan C2O
  • Ranting Pohon Production
  • Center for Chinese Indonesian Studies
  • Jejak Petjinan

Fotografi: Erlin Goentoro

Categories: ArtikelFilm reviewsHighlightReportase
Tags:

: Founding director, c2o library & collabtive. Currently also working in Singapore as a Research Associate at the Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS). Opinions are hers, and do not represent/reflect her employer(s), institution(s), or anyone else with whom she may be remotely affiliated.
Email this author | Visit author's website | All posts by

One Response

Feed Trackback Address
  1. maria says:

    bagus sekali. sangat membantu bagi kami yang mengambil studi arsitektur
    semoga bermanfaat

    God bless

Leave a Reply


Subscribe

Daftarkan email untuk menerima berita
Subscribe to receive email updates

Archives


Book reviews »
rumahkertascarlosdominquez-575x350
Rumah Kertas
Carlos María Domínguez
by Ivana Kurniawati
Meski tipis dan mampu dilahap sekali duduk, kisah ini (dan bagaimana penulis menceritakannya) mampu ...
Film reviews »
invitation05
Invitation
Affan Hakim, 2011
by Iman Kurniadi
Sebuah movie screening patut saya ikuti karena biasanya saya bertemu dengan para movie mak...
Music reviews »
Deugalih. Foto: Denan Bagus (akudenan.wordpress.com)
Guyonan Intim dan Syahdunya Tur ‘Monster of Folk’ di Surabaya

by Debby Utomo
Project yang dibawakan oleh Rayhan Sudrajat, Deugalih, dan Ledakan Urbanisasi ini menyadarkan saya b...
Download »
ronascent2_outtatime
Outtatime
Ronascent
by c2o library & collabtive
Ronascent, salah satu media musik online yang berbasis di Surabaya, kembali menerbitkan kumpulan ...
Event »
pasardjenggot575x350
Pasar Djenggot vol. 1

by c2o library & collabtive
Pasar Djenggot ☞ Minggu, 11 Desember 2016, pk. 15.00 – 18.00 di c2o library & collabti...

Twitter

Latest stories curated by Ayorek!, connecting the people & the city of Surabaya